
Berita
Ekspor Minyak Atsiri RI Tembus Rp 4,2 Triliun, Industri Dorong Kerja Sama Berkelanjutan
JAKARTA, KOMPAS.com – Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama dalam industri minyak atsiri dunia. Nilai ekspor minyak atsiri Indonesia pada tahun 2024 tercatat mencapai 259,54 juta dollar AS atau sekitar Rp 4,2 triliun, menempatkan Indonesia di peringkat delapan eksportir minyak atsiri global.
Data Outlook Nilam 2024 dari Kementerian Pertanian (Kementan) juga menunjukkan produksi minyak nilam nasional mencapai 2.220 ton, meningkat 4,81 persen dibanding tahun sebelumnya. Capaian ini mencerminkan peluang besar bagi industri atsiri untuk terus tumbuh, terutama bila diiringi dengan penguatan kolaborasi lintas sektor.
Potensi tersebut menjadi sorotan utama dalam Konferensi Nasional Minyak Atsiri (KNMA) XIII yang digelar di Manado, Sulawesi Utara, pada 26 sampai 28 Oktober 2025 lalu.
Acara ini mempertemukan petani, penyuling, peneliti, akademisi, hingga pelaku industri dari berbagai daerah. Salah satu peserta aktif adalah PT Natura Perisa Aroma (NPA) melalui merek Nekaroma, yang berkomitmen memperkuat daya saing industri atsiri nasional lewat riset, inovasi, dan kemitraan.
“KNMA adalah ruang penting bagi seluruh stakeholder untuk membangun sinergi yang berkelanjutan. Kami percaya kekuatan industri atsiri terletak pada kolaborasi dari hulu ke hilir, dari petani hingga pelaku bisnis,” ujar Billy Laurence, Managing Director PT Natura Perisa Aroma, dalam keterangan tertulis, Senin (10/11/2025).
Acara itu menghadirkan berbagai pembicara dari kalangan pemerintah, industri, dan akademisi. Selama tiga hari, peserta mengikuti rangkaian kegiatan mulai dari konferensi, business matching, hingga kunjungan lapangan ke kebun dan penyulingan nilam di Minahasa Utara.
Bagi Nekaroma, keikutsertaan dalam KNMA XIII bukan hanya sekadar menampilkan produk, tetapi juga menegaskan filosofi “mewangikan dunia dengan kearifan alam Indonesia.”
Melalui bahan baku alami dari berbagai wilayah nusantara dan proses produksi berorientasi keberlanjutan, perusahaan ini ingin menunjukkan bahwa kualitas global bisa tumbuh dari potensi lokal. “Kami ingin terus berperan aktif dalam memperkuat ekosistem atsiri Indonesia, tidak hanya dari sisi produk, tetapi juga dengan menciptakan nilai tambah yang dirasakan oleh petani dan komunitas lokal,” tambah Billy.
Nekaroma memproduksi beragam minyak atsiri dan aroma kimia seperti minyak cengkeh, nilam, pala, sereh wangi, akar wangi, jahe segar, dan lada hitam. Produk-produk tersebut digunakan secara luas di industri makanan dan minuman, parfum, kosmetik, hingga farmasi.
Dengan berbagai sertifikasi internasional seperti Halal, Kosher, ISO 9001:2015, FSSC 22000, FDA Registered Facility, serta REACH Compliance, Nekaroma berupaya menjaga mutu dan keberlanjutan produksi. Nekaroma berharap dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat produksi minyak atsiri dunia sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi petani dan penyuling di daerah.
Sebagai informasi, industri minyak atsiri Indonesia menunjukkan potensi signifikan sebagai salah satu komoditas unggulan berbasis sumber daya alam. Berdasarkan data tahun 2024, nilai ekspor minyak atsiri mencapai 259,54?juta dollar AS atau sekitar Rp?4,2?triliun. Ini menempatkan Indonesia di posisi delapan eksportir minyak atsiri dunia.
Kondisi ini didukung oleh keanekaragaman flora atsiri yang besar. Indonesia memiliki sekitar 97 jenis tanaman atsiri di dunia dan setidaknya 40 di antaranya tumbuh subur di Tanah Air.
Sementara itu, minyak nilam menyumbang sekitar 54?persen dari ekspor minyak atsiri Indonesia, senilai 141,32?juta dollar AS atau setara sekitar Rp 2,32 triliun. Ekspor yang terus menggeliat menunjukkan bahwa meski ekspor bahan baku atsiri sudah kuat. Masih terdapat ruang besar bagi pengembangan hilirisasi, diversifikasi produk, dan pemanfaatan nilai tambah domestik agar industri minyak atsiri nasional dapat lebih berdaya saing dan berkelanjutan.
Link Berita: